The Writer's Script


Pacaran? No Way!

Di mana-mana ada aja orang pacaran! Icha heran, kok banyak, ya, cewek yang pengen punya pacar?

“Pacaran itu supaya kita saling mengenal!” kata Desti. Lalu apa guna sahabat?

“Pacaran itu untuk saling berbagi dengan orang yang kita sayangi,” kata Hani. Sama bapakmu pacaran juga?

“Biar dapet status ‘In a Relationship’ di facebook! Wakakakak!” kata Fania. Walah?

“Biar ada yang ngingetin kita! Ngingetin apa aja. Mandi, belajar, bangun tidur…” kata Adel. Alarm berjalan dong?

“Biar ada yang bayarin makanan minuman!” kata Santi. Widih, matre nih, ye…

“Biar ada yang nganter-nganter gue! Ke les, ke sekolah, PP…” kata Widya. Wah, supir pribadi, ya?

“Pacaran… biar keren!” kata Indah. Nah, ini tambah kacau.

Icha sering kali tersenyum-senyum mendengar perkataan teman-temannya yang aneh-aneh itu. tapi bagi Icha, semua pada intinya sama: ujung-ujungnya maksiat!

Liat aja, kalau pacaran, awalnya pegangan tangan… lalu cowoknya ngerangkul ceweknya… terus pelukan… cipika cipiki… lama-lama jadi… WOW! Naudzubillah -__-

“lah, nape lo kaga mau pacaran? Enak loh! Cobain gih! Ntar gue bantu jadi makcomblang, dah!” kata Tania pada suatu hari.

“ah, ogah gue. Enak apaan? Masih enakan somay nya si ibu kantin! Sorry, tan, thanks, gue gabutuh cowok. Seenggaknya untuk jaman SMA ini!” kata Icha semangat.

“Yaaah, gak gaul lu! Emang nape lo kaga mau pacaran?” tanya Tania.

“karena cinta dan tubuh gue cuma buat pangeran gue di masa depan! Pangeran alias suami! Dan buat nyari suami kaga pake nyoba-nyoba lah,” jawab Icha mantap.

“Halah! Sok alim lu! Nyoba-nyoba gimana?? Emang narkoba!” kata Tania.

“nyoba-nyoba pacaran maksudnya! Biarin, ini prinsip gue. Mending lu ikutin dah kata gue. Biar masa depan lu cerah. Lagipula, ye, pacaran itu ribet. Kaga bisa belajar. Cemburu, lah, sakit hati, lah, sedih, lah, galau, lah. Kacau pokoknya! Elu juga hati-hati sama Brian, bahaya tuh orang!” kata Icha memperingati.

“Sok tau lu! Kenal aja kagak! Dia baik kok!” kata Tania kesal. Bel pun berbunyi. Tania segera meninggalkan Icha, menuju kelasnya. Icha hanya tersenyum saja.

Beberapa hari kemudian…

“Tania, lu kenapa??” tanya gerombolan siswi heran. Tania sangat muram hari ini.

“Ah, gue nggak apa-apa, kok…” jawabnya pelan. Icha segera menghampiri sahabatnya itu sambil terheran-heran.

“nape lu?” tanya Icha heran.

“gue diputusin sama Brian! Baru putus eh langsung dapet cewek lagi! Dasar cowo kurang ajar! Bisanya main cewek!” umpat Tania kesal. Ia terus-terus mengatai si Brian. Waduh, dulu di puja, sekarang di hina. Gimana, sih?

“nah, makanya lu dengerin dong apa kata gue. Hahaha. Keliatan kan! Iiih, udah bekas lu, nggak banget, deh!” kata Icha menyindir.

“Bekas?”

“iya, kayak barang second gitu. Bekas pakai. Atau bahasa halusnya mantan! Iya, kan?!” kata Icha lalu tertawa.

“Enak aja! Ah lu mah gitu. Sahabat lagi sedih lu malah ketawa!” kata Tania marah.

“Iya, iya, udah, deh, turutin kata-kata gue!” bujuk Icha.

“Iya kali ya….” Kata Tania sambil berfikir.

“Nah, gitu dong!! Ayo, semangat, Tania!” Icha tersenyum sambil merangkul sahabatnya. Lalu ia mengajak Tania ke kantin. Menurut riset ala Icha, makan bisa membantu mengurangi stress! Hahahaha!

Seminggu kemudian…

“Taniaa, ayo kita pulang bareng!” ajak Icha.

“Duh, sorry sorry jack dah, Cha. Gue udah ditungguin sama Farid, nih! Mau pulang bareng!” kata Tania semangat. Lalu segera lari meninggalkan Icha menuju ke parkiran. “Siapa lagi Farid?”

Icha mengikuti. Dilihatnya Tania sedang bermesraan dengan Farid selama beberapa menit, dan kemudian mulai beranjak pergi boncengan naik motor!

“Ya, ampun. Tania, Tania! Baru juga dibilangin!! Nggak kapok-kapok, ya!” Icha pun menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah sahabatnya itu.

 


Lihat Aku, Bu

Dulu Ibu selalu bilang

aku harus mencontoh anak tetangga

Dulu Ibu bilang

aku harus rajin belajar seperti mereka

Dulu Ibu bilang

aku harus rajin beribadah seperti mereka

 

Masih aku ingat perkataan Ibu

“Coba kamu contoh Ana

yang tiap pagi membantu ibunya

menyapu halaman rumah

Coba kamu contoh Ayu

yang tiap minggu

menemani ibunya pergi ke pasar

Coba kamu contoh Aida

yang tiap hari rajin mengaji

Coba kamu contoh Amanda

yang tiap hari rajin belajar

selalu mendapat ranking

mereka juga patuh pada orang tua

mereka juga rajin beribadah

benar-benar membanggakan orangtua”

 

aku kesal

dengan perkataan Ibu

aku tidak suka

Ibu membandingkan diriku

dengan anak-anak tetangga

atau anak lainnya

 

aku tau,

aku memang tidak serajin mereka

aku memang tidak sepintar Amanda

aku sering melawan Ibu

tapi tolong jangan bandingkan aku

 

Tapi itu adalah dulu

sekarang, tidakkah engkau bangga bu?

aku yakin

aku yang sekarang masih kurang

untuk membanggakanmu

 

tapi bu,

coba lihat

anak-anak tetangga

yang selalu Ibu bandingkan denganku

 

lihat Ana

dulu ia sangat berbakti kepada orang tuanya

tapi sekarang?

seringkali aku melihatnya di twitter

menulis kata-kata makian yang pedas

untuk orang tuanya

 

lihat Ayu

dulu ia penurut pada orang tuanya

dulu ia memakai rapi jilbabnya

dulu ia rajin belajar

tapi sekarang?

aku tak melihat jilbabnya lagi

aku tak pernah liat ia dalam urutan ranking atas

aku bahkan sering melihatnya

berduaan dengan laki-laki teman satu sekolah kami

 

lihat Aida

mungkin sampai sekarang

ia masih rajin beribadah

serta membaca Al-Quran

telah khatam berkali-kali

tapi tidak Ibu ketahui,

Ia sudah berani pergi berduaan

dengan laki-laki yang bukan muhrimnya

walaupun ia berjilbab

tanpa ada rasa canggung sedikit pun

pakaiannya pun benar-benar

memperlihatkan lekuk tubuhnya

 

lihat Amanda

benar, sampai kini ia tetap rajin belajar

Ia tetap mendapat ranking

tapi tak ibu tahu,

aku tak melihat jilbabnya lagi

ia juga sering berkata kasar

ditulisnya dalam twitter

 

dan Ibu,

coba lihatlah diriku yang sekarang

aku memang tetap tidak sepintar Amanda

aku tidak serajin Ayu dan Ana yang dulu

aku bahkan belum khatam Al-Quran sama sekali

dibandingkan dengan Aida

sholatku masih sedikit bolong

 

tapi tidakkah ibu lihat,

jilbab yang menutupi kepalaku?

kini aku telah memutuskan

mengganti jilbabku

dengan jilbab yang lebih besar

sehingga benar-benar menutupi dadaku,

dan sedikit menutupi perut

nyaris menutupi seluruh tubuh

 

tidakkah ibu lihat,

aku telah meninggalkan celana jeansku?

aku menggantinya dengan rok panjang

yang membuatku

tampak terlihat lebih anggun

 

tidakkah ibu lihat,

bolong sholatku sudah mulai berkurang banyak?

dibanding dulu

yang bahkan dalam seminggu tidak pernah sholat

dibanding sekarang

yang Insya Allah dalam seminggu full

aku kerjakan ibadah wajib itu

 

tidakkah ibu lihat,

aku telah memulai membaca Al-Quran lagi?

dulu aku hanya membaca Al-Quran

tiap minggu 2 kali

setiap membaca hanya 1 halaman.

tapi kini

tiap minggu setidaknya 4 kali

dan membaca minimal 3 lembar

 

tidakkah ibu lihat,

kini aku rajin berorganisasi di Rohis?

tidak seperti anak tetangga

yang dulu Ibu bandingkan denganku

mereka bahkan menghina Rohis

bagi mereka Rohis itu buang-buang waktu

bagiku Rohis adalah tempat

di mana aku bisa belajar untuk berdakwah

 

tidakkah ibu lihat,

putri sulungmu ini

yang umurnya baru 15 tahun

akan beranjak menuju PTN tahun ini?

teman-temanku bahkan masih bersantai

menikmati masa kelas 1 dan 2 SMA

 

Ibu,

aku tahu

aku memang belum bisa membanggakanmu

tapi aku harap

Ibu bisa berhenti membandingkanku

Aku adalah Aku

Mereka adalah Mereka

 

Ibu,

mungkin masih ada beberapa

dari diriku

yang membuatmu kecewa

tapi kuharap

rasa kecewa itu tidak sebanyak dulu

aku telah berubah, bu

karena aku

bukanlah lagi seorang anak kecil

yang pemalas

🙂


Lomba Cerpen

Assalamualaikum teman-teman…

Alya lagi nyoba ikut lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh Indopos. di sana diizinkan mengirim cerpen sebanyak-banyaknya. otomatis Alya langsung ngirim semua karya Alya yang numpuk di flashdisk. doakan Alya bisa menang ya ^^

Insya Allah, nanti kalau lombanya udah selesai, dan udah pengunguman, semua karya yang Alya kirim bakal Alya post di sini. menang atau kalah, sama aja🙂

yang penting Alya cukup puas bisa mengirim karya-karya Alya. hehehe😀

sejauh ini ada 3 cerpen yang Alya kirim. tentang cinta-cintaan yang ada di kalangan anak SMP dan tentang menjadikan hal yang dikira tak mungkin menjadi mungkin. satunya lagi adalah “Pertemuan Terakhir” yang Alya pernah post di blog ini sebelumnya. Alya tau cerpen yang itu kurang bagus, tapi coba-coba aja di kirim. hehehe.

mumpung libur, sekalian nih isi waktu buat bikin cerpen🙂

Wassalamualaikum wr wb,

Alyana Asti